Fish

Jumat, 10 Februari 2012

Psikologi Pembawaan dan lingkungan


A.    Pengertian pembawaan dan lingkungan
Hereditas merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan indvidu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai totalitas karakter individu yang  diwariskan orangtua kepada anaknya, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki oleh setiap individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen.[1]
Istilah lain dari pembawaan ialah hereditas atau heredity. Heredity diartikan oleh para ahli sebagai stilah  lain d berikut:
1.      Menurut Silverstone
Masa pembawaan biasanya mendeskrpsikan karakteristik dan pola itu perkembangan yang secara biologis terpancar dari induk ke anak
2.      Menurut Dennis Coon
Pembawaan adalah satu transmisi phisik dan karakteristik psikologis dari induk  ke anak cucu melalui gen
              Unsur-unsur pembawaan yang berupa potensi-potensi fisik dan mental psikologi itu dalam proses perkembangan akan berfungsi sebagai factor dasar atau factor bahan yanga akan mempengaruhi proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan itu diperlukan bahan dasar, sebab tanpa adanya bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik dan perkembangan mental psikologi anak tidak akan terjadi. Tentunya semakin baik potensi kondisi pembawaan sebagai faktor dasar atau bahan maka dapat diharapkan akan semakin baik pula hasil perkembangan yang akan terjadi.dan sebaliknya semakin kurang baik kondisi bawaan yang dimiliki seorang anak tentunya sulit untuk memperoleh hasil perkembangan yang baik.
            Menurut Urie Bronfrenbenner dan Ann Crouter (Sigelman dan Shaffer,1995:86) mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan merupakan berbagai peristiwa, situasi, atau kondisi di luar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan indvidu. Lingkungan ini terdiri atas :
1.Fisik
Meliputi segala sesuatu dari molekul yang ada di sekitar janin sebelum lahir sampai kepada rancangan arsitektur suatu rumah.
2.   Sosial
Meliputi seluruh manusia yang secara potensial mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan indvidu.
Lingkungan menurut Sartain dkk, ‘’lingkungan adalah semua kondisi di dalam dan di luar organisme yang berpengaruh terhadap perilaku kita, perkembangan, atau proses hidup kecuali gen dan bahkan gen dapat dipertimbangkan untuk menyediakan lingkungan untuk gen lain. Lingkungan terbagi menjadi 2, yaitu lingkungan internal, dan lingkungan eksternal.[2]
Lingkungan internal terdiri dari kondisi organ dan material dalam diri seseorang ,seperti : gizi,vitamin, suhu, system urat saraf, motivasi, kemauan, dasn sebagainya.
Lingkungan luar ialah lingkungan alam (natural environment) dan lingkungan social ( social environment), lingkungan alam meliputi suhu, iklim, geografis, waktu pagi siang dan malam. Lingkungan social ( social environment) dapat berupa orang atau pribadi seseorang, sekumpulan orang  seperti kelarga, masyarakat, teman-teman sekelas, dan organisasi.

B.     Peranan lingkungan dalam proses pembawaan
Dalam proses perkembangan manusia, lingkungan ini merupakan factor yang penting setelah factor pembawaan. Tanpa adanya dukungan dari factor lingkungan, maka proses perkembangan dalam mewujudkan  potensi pembawaan  kenyataan nyata tidak akan terjadi. Oleh karena itu, fungsi atau peranan lingkungan ini dalam proses perkembangan dapat dikatakan sebagai factor ajar, yaitu factor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik sebab pengaruh lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruh yang baik dan sangat menunjang perkembangan suatu potensi atau bersifat negative yaitu pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat atau merusak perkembangan. Oleh karenaitu, sudah menjadi tugas utama seorang pendidik (orangtua atau pendidik) untuk menciptakan atau menyediakan lingkungan yang positif agar dapat menunjang perkembangan si anak dan berusaha untuk mengawasi dan menghindarkan pengaruh lingkungan yang negative yang dapat menghambat dan merusak perkembangan si anak.

C.    Teori lingkungan dan pembawaan terhadap perkembangan manusia
Pada pembahasan jiwa (anima) diketahui bahwa manusia memiliki kesempurnaan dibanding makluk yang lain. Manusia dalam hidup mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun kejiwaan (fisiologis dan psikologis). Banyak faktor yang menetukan perkembangan manusia, yang mengakibatkan munculnya berbagai teori tentang perkembangan manusia. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Teori Nativisme
Pelopor teori ini adalah Athur Schopenhauer. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh nativus atau faktor-faktor bawaan manusia sejak dilahirkan. Teori ini menegaskan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mempengaruhi dan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Faktor lingkungan dan pendidikan diabaikan dan dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan manusia.

2.      Teori Empirisme
Berbeda dengan teori sebelumnya, teori ini memandang bahwa perkembangan individu dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan mulai dari lahir hingga dewasa. Teori ini memandang bahwa pengalaman adalah termasuk pendidikan dan pergaulan. Penjelasan teori ini adalah manusia pada dasarnya merupakan kertas putih yang belum ada warna dan tulisannya akan menjadi apa nantinya manusia itu bergantung pada apa yang akan dituliskan . pandangan teori ini lebih optimistic terhadap pendidikan,bahkan pendidikan termasuk factor terpenting untuk menemukan perkembangan manusia. Teori ini dipelopori oleh John Locke.
3.      Teori konvergensi
Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu. Asumsi teori ini berdasar eksperimen dari William Stern terhadap dua anak kembar. Anak kembar memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam lingkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda. Dari sinilah maka teori ini menyimpulkan bahwa sifat keturunan atau pembawaan bukanlah faktor mayor yang menentukan perkembangan individu tapi turut juga disokong oleh factor lingkungan.
Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan. Selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah
Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Bila lingkungan bersifat pasif tidak memaksa bergantung pada individu apakah mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sedangkan pendidikan bersifat aktif dan sistematis serta dijalankan penuh kesadaran.


D.    Pengaplikasian lingkungan pembelajaran
Lingkungan pembelajaran bisa dilakukan dimana saja,diantaranya di ruang kelas dan di rumah, setiap orang pasti menginginkan ruang belajar yang nyaman baik di rumah maupun di kelas. Berikut tata cara mendesain ruang belajar :
a.       Di ruangan kelas
Menurut Winzer (dalam winataputra, 1998; 16), beberapa penelitian menunjukan bahwa penataan lingkungan yang tepat akan berpengaruh terhadap  tingkat keterlibatan dan paratisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Pada prinsipnya lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruang kelas yang menarik, efektif dan mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
Menurut Loisell (dalam winataputra, 1998; 17-19) ketika menata lingkungan fisik kelas ada beberapa hal-hal yang harus diperhatikan guru sebagai berikut:
1.Visibility (Keleluasaan pandangan)
Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata lingkungan kelas adalah visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang dikelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa lebih leluasa memperhatikan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung.
2.   Accessibility (Mudah dicapai/ mudah dijangkau)\
Barang-barang yang dibutuhkan siswa dalam proses pembelajaran  hendaknya  diletakkan  lebih  dekat  dengan  siswa sehingga mudah dijangkau oleh siswa.  
3.      Fleksibilitas (Keluesan)
Barang-barang yang ada didalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindah sesuai dengan tuntutan pembelajaran.
4.   Kenyamanan,dan
Selain menata ruang kelas sesuai dengan tujuan dan strategi pembelajaran, guru juga dituntut untuk menata dan memberikan kenyamanan baik bagi siswa maupun guru itu sendiri. Prinsip kenyamanan ini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5.       Keindahan
Dalam menata ruang kelas, prinsip keindahan ini perlu diperhatikan. Prinsip ini berkenaan dengan usaha guru menciptakan ruangan kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Salah satu contoh gambar ruang kelas :
 






b.      Di rumah
Suasana yang nyaman adalah faktor terpenting yang pertama-tama harus diwujudkan di ruang belajar. Semangat untuk belajar sering surut bukan karena ketiadaan atau kualitas fasilitas yang kurang baik, tetapi karena suasana ruangan yang tidak menunjang dan kurang sesuai dengan karakter dan suasana hati.
Gairah belajar dengan demikian identik dengan kenyamanan ruangan. Dalam hal ini, letak ruangan belajar dapat menjadi hal yang penting, terutama terhadap letak televisi yang pada umumnya menjadi gangguan utama bagi konsentrasi anak. Karena itu sedapat mungkin jauhkanlah, atau hindarilah pandangan langsung dari ruang belajar ke arah ruang televisi yang menyebabkan suasana belajar tidak kondusif.
Demikian pula halnya dengan kondisi pengudaraan dalam ruangan, terutama pada ruangan yang terasa panas dan pengap. Jangan segan-segan menggunakan kipas angin atau alat bantu lainnya untuk melancarkan sirkulasi udara. Mengabaikan kondisi tersebut dengan alasan untuk penghematan bukanlah sebuah solusi yang bijak.
Dalam menata meja belajar ada beberapa tips untuk meja belajar yang ideal :

a.       Ukuran
Pilihlah meja dan kursi belajar yang memilik ukuran dan ketinggian yang sesuai dengan umur. Selain itu, sesuaikan juga ukurannya dengan juga layout furniture ruang belajar lainnya agar suasananya tetap nyaman dan leluasa. Meja bealjar yang besar dan lebar belum tentu sesuai dan menjawab kebutuhan belajar.
b.       Desain
Tentu bahan yang baik penting agar dapat bertahan lama, mengingat aktivitas anak yang selalu dinamis. Beberapa jenis laci dan tempat penyimpanan dalam sebuah desain meja yang menarik, juga baik untuk melatih kedisiplinan sekaligus kreativitas mereka. Selain itu, jangan mengabaikan pijakan pada kursi dan meja untuk mengistirahatkan kaki. Walaupun tampak sepele, tidak adanya pijakan dapat mengganggu kelancaran sirkulasi darah dan menyebabkan timbulnya rasa gelisah.
c.       Pencahayaan
Meja belajar sebaiknya ditempatkan dekat dengan jendela agar cukup mendapatkan sinar matahari langsung, sehingga tidak perlu menyalakan lampu di siang hari. Selain itu jangan menempatkan meja belajar membelakangi lampu ruangan, karena hal ini dapat menyebabkan terbentuknya bayangan yang menutupi meja, sehingga tidak diperoleh
penerangan dan menyebabkan mata menjadi cepat lelah. Untuk lampu di meja belajar sebaiknya ditempatkan di sisi lain dari tangan yang digunakan untuk menulis. Misalnya jika anak kidal lampu belajar ditempatkan di sebelah kanan, dan juga  sebaliknya.
Contoh gambar ruang belajar di rumah :




 


[1]Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal.31
[2] M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,2010),hal.40

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar